Mengapa Pasien Gagal Ginjal Tak Boleh Terlalu Banyak Minum?

Dampak yang lebih fatal bisa terjadi bila penumpukan cairan tubuh itu terjadi di otak. Ketika cairan tubuh di sekitar sel otak menjadi encer sementara di dalam sel tetap, maka akan terjadi penyerapan cairan. Sel otak bisa membengkak dan akibatnya fatal yakni memicu kematian.

Oleh karena itu, anjuran untuk banyak minum tetap ada batasannya apalagi pada lansia dan penderita gagal ginjal. Kurang minum tetap tidak bagus, tetapi kelebihan minum air putih juga tidak lebih sehat khususnya saat kondisi ginjal tidak berfungsi normal.

"Saat umur 65 tahun ke atas, idealnya asupan air antara 1 hingga 1,5 liter perhari. Lansia dianjurkan adalah setidaknya 1 liter perhari karena sistem tubuhnya kurang mampu membuang air dengan baik." tambah Dr Parlindungan.

Sementara itu, anggapan bahwa kurang minum adalah penyebab utama kerusakan pada ginjal juga dibantah oleh dokter ginjal. Menurut dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH dari Rumah Sakit MRCCC Siloam, penyebab sakit ginjal ada bermacam-macam dan tidak bisa dikatakan hanya karena kurang minum saja.

"Tidak benar jika jarang minum itu penyebab utama sakit ginjal, karena gangguan pada ginjal itu berbeda-beda penyebabnya," kata dr Tunggul.

Tempuyung, Tanaman Liar Peluruh Batu Ginjal

Hasil pengamatan menunjukkan, bobot batu ginjal berkurang sementara kadar kalsium dalam air rendaman bertambah. Temuan ini menunjukkan bahwa kalsium yang merupakan salah satu unsur pembentuk batu ginjal bisa pecah oleh rendaman daun tempuyung.

Meski demikian, penggunaan air rebusan daun tempuyung sebagai terapi medis saat ini belum banyak dilakukan. Kalaupun ada, sifatnya masih sebagai komplementer atau pelengkap pengobatan moderen dan bukan sebagai alternatif pengganti yang lebih manjur.

Demikian juga ketika detikHealth mencoba meminta pendapat internis atau dokter penyakit dalam dengan subspesialisasi ginjal dan hipertensi. Khasiat tempuyung yang sudah sejak lama digunakan secara tradisional masih dianggap belum jelas betul.

"Wah itu saya ga bisa jawab. Belum ada penelitian. Minum yang banyak saja cukup kok, sehari 3 liter," kata Dr Parlindungan Siregar, SpPD-KGH dari Universitas Indonesia, saat ditemui dalam Annual Woman's Health Expo beberapa waktu yang lalu.

Ini yang Terjadi Jika Hidup Hanya dengan Satu Ginjal

Donor ginjal memang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang mengalami gangguan pada fungsi kedua ginjalnya. Sementara bagi orang sehat, hidup dengan satu ginjal diyakini tidak akan menyebabkan masalah bagi kesehatan selama ginjal yang tersisa bisa berfungsi dengan baik.

Gaya hidup yang sehat tentu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang sudah kehilangan satu ginjal, baik karena rusak maupun didonorkan karena jika ginjal yang tersisa juga rusak maka sudah tidak ada cadangan lagi. Karena itu, pencegahan adalah langkah paling bijak.

Untungnya, mencegah kerusakan ginjal pada orang-orang yang hanya memiliki satu ginjal tidak sesulit yang dbayangkan. Cukup dengan menjalani pola hidup sehat, maka dengan sendirinya orang tersebut sudah melakukan upaya untuk mencegah kerusakan ginjal.

"Tidak ada pantangan asal dijaga kesehatannya, tidak mengonsumsi berbagai obat-obatan yang tidak jelas misalnya," tambah dr Tunggul.

Selama ginjal yang tersisa tidak mengalami kerusakan apapun, maka kualitas hidup orang-orang dengan satu ginjal tidak akan ada bedanya dengan yang lain. Orang tersebut bisa tetap sehat dan menjalani hidupnya secara normal seperti orang kebanyakan.

"Tidak akan menimbulkan efek apapun khususnya pada wanita yang hamil atau pada saat melahirkan. Salah satu pasien saya yang pernah
mendonorkan ginjalnya sudah melahirkan dua kali dan tidak mengalami apa-apa," kata dr Tunggul.

Yang terpenting saat seseorang hendak memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya, maka ia harus melakukan pemeriksaan. Tujuannya antara lain untuk memastikan kondisi ginjal yang tersisa apakah memungkinkan untuk bekerja secara normal sesuai fungsinya.

"Maka jika kasusnya karena mendonorkan, sebelum mendonorkan ginjalnya kami akan memastikan pendonor dapat menjaga hidupnya tetap sehat dan tidak memiliki faktor risiko gangguan ginjal seperti diabetes dan hipertensi," pungkas dr Tunggul.

Agar Ginjal Anda Awet Sehat

"Kalau batu ginjal bisa juga terbentuk akibat daerah yang airnya mengandung banyak mineral atau kapur. Jadi harus perhatikan kondisi air yang dikonsumsi juga. Faktor lainnya bisa jadi rokok. tapi ini mekanismenya belum jelas," lanjut dokter yang kini menjabat sebagai Direktur RS MRCCC Siloam.

Dalam artikel detikHealth, dr. Dante Saksono, SpPD, PhD, dari RS Cipto Mangunkusumo pernah memberikan beberapa tips untuk menjaga ginjal agar tetap sehat, yakni:

1. Cukup konsumsi air putih
2. Hindari konsumsi obat sembarangan
3. Kurangi jamu-jamuan yang belum diuji klinis
4. Hindari konsumsi suplemen yang berlebihan seperti Vitamin C maksimum 4 gram sehari
5. Olahraga teratur
6. Menjaga berat badan karena obesitas bisa memicu ginjal
7. Lakukan kontrol secara teratur terutama bagi pasien yang memiliki penyakit seperti diabetes dan hipertensi, karena mereka akan berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan ginjal.

Seseorang dapat melakukan medical check up untuk mengetahui apakah dirinya rawan dan mempunyai tanda-tanda atau kemungkinan bisa terkena penyakit ginjal.

Pemeriksaan laboratorium pada urine dapat mengetahui berat atau tidaknya penyakit ginjal yang dialami seseorang. Urine akan tampak normal jika penyebabnya kurang aliran darah ke ginjal. Tetapi jika urine mengandung darah itu artinya ada kelainan di dalam ginjal.

Kondisi Ibu Hamil yang Berpengaruh Pada Bayinya

1. Berat badan sebelum hamil
Obesitas yang terjadi saat hamil (maternal obesity) meningkatkan risiko seorang wanita untuk terserang diabetes gestasional atau menjalani persalinan prematur, termasuk memberikan risiko obesitas dan diabetes pada si anak. Sebuah studi terbaru juga telah mengaitkan antara berat badan wanita pra-kehamilan dengan risiko asma pada anaknya.

Menurut studi yang dipublikasikan pada bulan Januari 2013 tersebut 12 persen dari 1.100 anak yang terlahir dari ibu yang obesitas akan sering mengalami asma pada usia 14 bulan dibandingkan bayi yang terlahir dari ibu dengan berat badan normal (empat persen).

Hal ini dapat ditanggulangi dengan olahraga rutin. "Bahkan jika ibunya tidak aktif sebelum hamil, mereka harus membiasakan diri untuk jalan kaki setidaknya selama 20 menit, empat kali seminggu," tandas Dr. Jennifer Wu, seorang dokter spesialis ob-gyn di Lenox Hill Hospital, New York.

2. Asupan kafein ibu
Para dokter dan peneliti telah lama mengetahui bahwa asupan kafein yang tinggi selama masa kehamilan dapat membahayakan janin, tapi seberapa banyak kafein yang dianggap berbahaya itu masih diperdebatkan hingga kini.

American College of Obstetricians and Gynecologists pun merekomendasikan agar wanita hamil membatasi asupan kafeinnya sebanyak 200 milligram perhari atau sama dengan dua cangkir kopi.

Kendati begitu sebuah studi yang dipublikasikan bulan lalu menemukan asupan kafein yang terlalu sedikit juga erat kaitannya dengan peningkatan risiko bayi lahir dengan berat badan lebih kecil dari bayi normal.

"Jadi jika Anda diharuskan untuk meminum kopi, usahakan tak lebih dari enam ons perhari," kata Wu.

3. Asap rokok dari lingkungan sekitar
Tinggal di lingkungan yang sarat perokok telah lama diketahui dapat menyebabkan asma dan gangguan pernafasan pada anak-anak, namun sebuah studi baru menunjukkan bahwa paparan rokok pada ibu hamil juga dapat menimbulkan masalah bagi anak nantinya.

Studi yang dilakukan di China tersebut mengungkapkan bahwa anak yang terlahir dari ibu yang terpapar asap rokok selama masa kehamilan berisiko dua kali lebih tinggi mengalami gangguan perhatian dan cenderung agresif ketika mencapai usia lima tahun.

4. Konsumsi antidepresan
Lebih dari 13 persen wanita mengonsumsi antidepresan saat hamil. Padahal berdasarkan review terhadap sejumlah studi diketahui jika konsumsi antidepresan selama hamil akan memberikan efek jangka panjang terhadap janin.

Lagipula studi lain juga menemukan mengonsumsi salah satu jenis antidepresan yaitu selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) ketika hamil dikaitkan dengan tingginya risiko keguguran, lahir cacat, persalinan prematur dan gangguan perilaku pada bayi, termasuk autisme. Padahal 3 persen wanita yang mengonsumsi antidepresan selama hamil dilaporkan menggunakan SSRI.

"Untuk itu, terapi perilaku kognitif yang melibatkan konseling sebaiknya jadi pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk wanita hamil dengan mengalami gangguan mental, bukannya obat-obatan," saran Alice Domar, seorang psikolog yang bekerja di sebuah klinik kesuburan di Boston.

Namun antidepresan memang memberikan manfaat nyata bagi wanita dengan gangguan kesehatan mental. "Hanya saja konsultasikan dulu dengan dokter tentang obat-obatan yang sebaiknya mereka konsumsi sebelum memutuskan untuk hamil," saran Wu.

5. Kadar vitamin D dalam tubuh
Menurut sebuah studi dari University of Calgary, wanita yang berencana untuk hamil sebaiknya memperhatikan kandungan vitamin D di dalam tubuhnya terlebih dulu.

Pasalnya rendahnya kadar 'vitamin sinar matahari' selama hamil akan menyebabkan gangguan kesehatan, baik pada sang ibu maupun si anak.

Selain itu, berdasarkan review terhadap 30 studi diketahui jika rendahnya kadar vitamin D dalam tubuh seorang ibu dikaitkan dengan tingginya risiko diabetes gestasional, pre-eclampsia dan berat lahir yang rendah.

6. Paparan polusi udara
Menghirup polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas, industri hingga debu selama masa kehamilan akan meningkatkan risiko berat lahir bayi rendah.

Padahal banyak wanita yang tak dapat mencegah polusi karena tak dapat berpindah rumah atau tempat kerja, maka menghindari jam-jam macet dan berada terlalu dekat dengan sumber polusi seperti kendaraan bermotor mungkin cukup membantu.

Beruntung sebuah studi yang baru dipublikasikan tahun lalu menemukan bahwa penambahan asupan buah dan sayuran selama masa kehamilan dapat membantu melindungi janin dari efek polusi.

Jangan Duduk Sambil Menyilangkan Kaki Jika Sayang Saraf

Penyakit yang menyerang saraf adalah neuropati. Menurut penelitian Helen Vlassara dalam Mold JW et al, penyakit ini dialami 1 dari 4 orang berusia 40 tahun ke atas. Semakin bertambahnya umur akan lebih rentan terkena gangguan saraf.

"Neuropati merupakan salah satu kondisi kerusakan saraf yang dialami oleh sekitar 26 persen manusia," ucap dokter yang biasa disapa dr Luthy ini.

Menurutnya, dari data survei diketahui banyak pasien berusia 40 tahun ke atas yang mengeluhkan gejala neuropati. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa terjadi kerusakan saraf dalam tubuhnya.

"Tetapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi lebih dini jika Anda tidak menjaga pola hidup dengan baik," tambah dr Luthy.

Nah, karena itu sayangilah saraf Anda. Apalagi saraf adalah bagian dari tubuh yang regenerasinya cukup lama. "Sekali beregenerasi hanya akan bertambah 1 mm," imbuh dr Luthy.

Sebelumnya diberitakan, menurut penelitian baru-baru ini yang dilansir Counsel and Heal, Selasa (2/4), menyilangkan kaki memiliki efek samping mempengaruhi punggung dan pembuluh darah. Ketika menyilangkan kaki, berat satu kaki yang ditumpukan pada kaki lainnya dapat mengganggu aliran pembuluh darah.

Penelitian menemukan bahwa kebiasaan ini juga dapat mengakibatkan varises, yaitu pembengkakan pembuluh darah yang bisa menghambat aliran darah.